~LUKISAN
DIJENDELA~
Hidup itu untuk berjuang, untuk
mengarungi segala perjalanan yang akan kita lewati, untuk belajar dari
kesalahan masa lalu dan untuk belajar menerima takdir. Begitulah jalan hidup
yang sesungguhnya. Lalu bagaimana dengan hidup yang hanya dihabiskan didalam
sebuah ruang kecil? Bagaimana arti kehidupan bagi mereka yang putus asa?
Jika mereka saja
tak tahu makna kehidupan bagaimana mereka bisa menikmatinya?
***
Disebuah sudut ruang kecil, laki-laki
paruh baya menelungkupkan tangannya sambil memeluk kedua kakinya yang ia lipat,
dia telah lelah.
Akankah ada yang
akan membebaskannya dari jeruji yang menyeramkan ini? Salah jika kalian mengira
dia criminal. Bukan dia bukan criminal, dia bukan penjahat, dia bukan orang
yang bersalah dalam hukum. Dia hanya terjebak, terjebak disebuah rumah sakit
yang katanya untuk penderita sakit jiwa padahal dia tidak gila.
“pak Hilman,
cepat makan jatah makanan anda.” Ujar petugas yang mengantar makanan.
“saya tidak
gila! Keluarkan saya dari sini!” kata laki-laki paruh baya tadi, beliau bernama
Helmi.
“kalau anda
tidak gila, mana mungkin anak anda membawa anda kesini. Dasar orang gila, ada
ada saja.” Ujar petugas tadi sambil berlalu pergi.
Pak Helmi tidak
pernah keluar kamar, dia selalu mengurung diri dikamar. Dia tidak ingin
bergabung dengan orang gila karna dia tidak gila.
Kadang dia berkhayal
suatu saat nanti ada yang menjemputnya pulang. Sekalipun itu kematian. Yang
terpenting dia bisa keluar dari tempat menyeramkan ini.
Dia tidak pernah
menyangka anak yang dia banggakan yang telah menjebloskannya ketempat
menyeramkan ini hanya karna dia menolak pergi kepanti jompo akhirnya dia
berakhir disini. Anak sulung yang paling dia banggakan, pengusaha kaya yang
kekayaannya tidak pernah bisa ia nikmati sebagai seorang bapak.
Bapak yang bahkan tak pernah dihormati sebagai ayah
hanya karna dulunya dia petani yang miskin. Malukah anaknya mengakuinya? Sekali
saja anaknya memperkenalkannya pada teman-temannya tak pernah. Itu hanya impian
bodohnya.
Mungkin jika
almarhum istrinya melihatnya sekarang, dia pasti akan sangat sedih.
Ngung..shuut..
Suara yang
belakangan ini menyita perhatiannya, suara dari pesawat terbang yang selalu
tergambar dijendela kecil kamarnya. Pesawat yang ingin sekali dulu dia naiki,
pesawat yang mengingatkannya pada anak bungsunya.
“pak,pak..lihat
pesawat! Ada pesawat!” teriak seorang anak kecil yang lucu.
“mana? Bapak
tidak lihat?” Tanya sang bapak.
“itu..pesawat!
pesawat! Riki minta uang!” teriak anak kecil itu tanpa memikirkan orang-orang
disawah yang terus memandanginya.
“hahaha” sang
bapak hanya tertawa-tawa.
Iya. Bapak itu
adalah pak Helmi yang saat itu sedang bertani bersama anaknya. Anaknya yang
bungsu, namanya Riki.
“Riki kalau
sudah besar mau jadi apa?” Tanya pak Helmi.
“Iki, Iki mau
jadi pilot biar bisa bawa terbang bapak sama ibu ke mekah.” Katanya.
Pak Helmi
tersenyum.
“emangnya Riki
gak takut jadi pilot?” tanyanya.
“gak. Gak
dong..pokoknya Iki mau jadi pilot nanti kita sama-sama naik pesawat kemekah
yah..naik haji..” kata Riki dengan polosnya. Anak sekecil itu sudah berfikir
pintar.
Beda dengan sang
kakak yang lebih asik bermain dengan gargetnya, Riki sang adik justru lebih
suka membantu bapaknya bekerja diladang.
Ingatan masalalu
membuat pak Helmi menangis. Andai..andai saja anak bungsunya menjemputnya.
***
Pagi ini sang mentari malu-malu
menampakan sinarnya, langit mendung seolah menandakan perasaan sang mentari
yang enggan menyinari bumi. Pak Helmi seperti biasa terbaring dikamarnya.
“pak Helmi, ada
yang mencarimu.” Kata petugas.
“pak..pak..”
berkali-kali petugas memanggil pak Helmi namun tidak ada sahutan. Hingga
petugas itu masuk namun pak Helmi sudah tiada didunia ini lagi. Dia mungkin
sudah bahagia bersama sang istri dan anak bungsunya disurga.
Pesawat yang ia
harapkan menjemputnya menjadi kenyataan. Dia tengah tenang sekarang.
Rico anak
sulungnya tersentak, setelah diberi tahu petugas dan suster yang mengurus
bapaknya. Penyesalannya sia-sia. Baru saja dia berniat mengajak bapaknya pulang
bersamanya, padahal satu-satunya keluarganya adalah bapaknya namun dia malah
menyia-nyiakannya. Dia sangat menyesal.
Penyesalan
memang selalu datang belakangan, karna itu kita harus mengubahnya dengan tidak
mengulanginya lagi.
“kisah yang
sedih.” Kata Keysha setelah aku selesai bercerita.
“mau kisah
menarik yang lucu?” tanyaku.
Keysha tersenyum
dan mengangguk.
~selesai~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar