Sabtu, 14 Januari 2017

LUKISAN DIJENDELA



~LUKISAN DIJENDELA~


      Hidup itu untuk berjuang, untuk mengarungi segala perjalanan yang akan kita lewati, untuk belajar dari kesalahan masa lalu dan untuk belajar menerima takdir. Begitulah jalan hidup yang sesungguhnya. Lalu bagaimana dengan hidup yang hanya dihabiskan didalam sebuah ruang kecil? Bagaimana arti kehidupan bagi mereka yang putus asa?
Jika mereka saja tak tahu makna kehidupan bagaimana mereka bisa menikmatinya?
***
      Disebuah sudut ruang kecil, laki-laki paruh baya menelungkupkan tangannya sambil memeluk kedua kakinya yang ia lipat, dia telah lelah.
Akankah ada yang akan membebaskannya dari jeruji yang menyeramkan ini? Salah jika kalian mengira dia criminal. Bukan dia bukan criminal, dia bukan penjahat, dia bukan orang yang bersalah dalam hukum. Dia hanya terjebak, terjebak disebuah rumah sakit yang katanya untuk penderita sakit jiwa padahal dia tidak gila.
“pak Hilman, cepat makan jatah makanan anda.” Ujar petugas yang mengantar makanan.
“saya tidak gila! Keluarkan saya dari sini!” kata laki-laki paruh baya tadi, beliau bernama Helmi.
“kalau anda tidak gila, mana mungkin anak anda membawa anda kesini. Dasar orang gila, ada ada saja.” Ujar petugas tadi sambil berlalu pergi.
Pak Helmi tidak pernah keluar kamar, dia selalu mengurung diri dikamar. Dia tidak ingin bergabung dengan orang gila karna dia tidak gila.
Kadang dia berkhayal suatu saat nanti ada yang menjemputnya pulang. Sekalipun itu kematian. Yang terpenting dia bisa keluar dari tempat menyeramkan ini.
Dia tidak pernah menyangka anak yang dia banggakan yang telah menjebloskannya ketempat menyeramkan ini hanya karna dia menolak pergi kepanti jompo akhirnya dia berakhir disini. Anak sulung yang paling dia banggakan, pengusaha kaya yang kekayaannya tidak pernah bisa ia nikmati sebagai seorang bapak.
Bapak  yang bahkan tak pernah dihormati sebagai ayah hanya karna dulunya dia petani yang miskin. Malukah anaknya mengakuinya? Sekali saja anaknya memperkenalkannya pada teman-temannya tak pernah. Itu hanya impian bodohnya.
Mungkin jika almarhum istrinya melihatnya sekarang, dia pasti akan sangat sedih.
Ngung..shuut..
Suara yang belakangan ini menyita perhatiannya, suara dari pesawat terbang yang selalu tergambar dijendela kecil kamarnya. Pesawat yang ingin sekali dulu dia naiki, pesawat yang mengingatkannya pada anak bungsunya.
“pak,pak..lihat pesawat! Ada pesawat!” teriak seorang anak kecil yang lucu.
“mana? Bapak tidak lihat?” Tanya sang bapak.
“itu..pesawat! pesawat! Riki minta uang!” teriak anak kecil itu tanpa memikirkan orang-orang disawah yang terus memandanginya.
“hahaha” sang bapak hanya tertawa-tawa.
Iya. Bapak itu adalah pak Helmi yang saat itu sedang bertani bersama anaknya. Anaknya yang bungsu, namanya Riki.
“Riki kalau sudah besar mau jadi apa?” Tanya pak Helmi.
“Iki, Iki mau jadi pilot biar bisa bawa terbang bapak sama ibu ke mekah.” Katanya.
Pak Helmi tersenyum.
“emangnya Riki gak takut jadi pilot?” tanyanya.
“gak. Gak dong..pokoknya Iki mau jadi pilot nanti kita sama-sama naik pesawat kemekah yah..naik haji..” kata Riki dengan polosnya. Anak sekecil itu sudah berfikir pintar.
Beda dengan sang kakak yang lebih asik bermain dengan gargetnya, Riki sang adik justru lebih suka membantu bapaknya bekerja diladang.
Ingatan masalalu membuat pak Helmi menangis. Andai..andai saja anak bungsunya menjemputnya.
***
       Pagi ini sang mentari malu-malu menampakan sinarnya, langit mendung seolah menandakan perasaan sang mentari yang enggan menyinari bumi. Pak Helmi seperti biasa terbaring dikamarnya.
“pak Helmi, ada yang mencarimu.” Kata petugas.
“pak..pak..” berkali-kali petugas memanggil pak Helmi namun tidak ada sahutan. Hingga petugas itu masuk namun pak Helmi sudah tiada didunia ini lagi. Dia mungkin sudah bahagia bersama sang istri dan anak bungsunya disurga.
Pesawat yang ia harapkan menjemputnya menjadi kenyataan. Dia tengah tenang sekarang.
Rico anak sulungnya tersentak, setelah diberi tahu petugas dan suster yang mengurus bapaknya. Penyesalannya sia-sia. Baru saja dia berniat mengajak bapaknya pulang bersamanya, padahal satu-satunya keluarganya adalah bapaknya namun dia malah menyia-nyiakannya. Dia sangat menyesal.
Penyesalan memang selalu datang belakangan, karna itu kita harus mengubahnya dengan tidak mengulanginya lagi.
“kisah yang sedih.” Kata Keysha setelah aku selesai bercerita.
“mau kisah menarik yang lucu?” tanyaku.
Keysha tersenyum dan mengangguk.


~selesai~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar