Sabtu, 14 Januari 2017

LUKISAN DIJENDELA



~LUKISAN DIJENDELA~


      Hidup itu untuk berjuang, untuk mengarungi segala perjalanan yang akan kita lewati, untuk belajar dari kesalahan masa lalu dan untuk belajar menerima takdir. Begitulah jalan hidup yang sesungguhnya. Lalu bagaimana dengan hidup yang hanya dihabiskan didalam sebuah ruang kecil? Bagaimana arti kehidupan bagi mereka yang putus asa?
Jika mereka saja tak tahu makna kehidupan bagaimana mereka bisa menikmatinya?
***
      Disebuah sudut ruang kecil, laki-laki paruh baya menelungkupkan tangannya sambil memeluk kedua kakinya yang ia lipat, dia telah lelah.
Akankah ada yang akan membebaskannya dari jeruji yang menyeramkan ini? Salah jika kalian mengira dia criminal. Bukan dia bukan criminal, dia bukan penjahat, dia bukan orang yang bersalah dalam hukum. Dia hanya terjebak, terjebak disebuah rumah sakit yang katanya untuk penderita sakit jiwa padahal dia tidak gila.
“pak Hilman, cepat makan jatah makanan anda.” Ujar petugas yang mengantar makanan.
“saya tidak gila! Keluarkan saya dari sini!” kata laki-laki paruh baya tadi, beliau bernama Helmi.
“kalau anda tidak gila, mana mungkin anak anda membawa anda kesini. Dasar orang gila, ada ada saja.” Ujar petugas tadi sambil berlalu pergi.
Pak Helmi tidak pernah keluar kamar, dia selalu mengurung diri dikamar. Dia tidak ingin bergabung dengan orang gila karna dia tidak gila.
Kadang dia berkhayal suatu saat nanti ada yang menjemputnya pulang. Sekalipun itu kematian. Yang terpenting dia bisa keluar dari tempat menyeramkan ini.
Dia tidak pernah menyangka anak yang dia banggakan yang telah menjebloskannya ketempat menyeramkan ini hanya karna dia menolak pergi kepanti jompo akhirnya dia berakhir disini. Anak sulung yang paling dia banggakan, pengusaha kaya yang kekayaannya tidak pernah bisa ia nikmati sebagai seorang bapak.
Bapak  yang bahkan tak pernah dihormati sebagai ayah hanya karna dulunya dia petani yang miskin. Malukah anaknya mengakuinya? Sekali saja anaknya memperkenalkannya pada teman-temannya tak pernah. Itu hanya impian bodohnya.
Mungkin jika almarhum istrinya melihatnya sekarang, dia pasti akan sangat sedih.
Ngung..shuut..
Suara yang belakangan ini menyita perhatiannya, suara dari pesawat terbang yang selalu tergambar dijendela kecil kamarnya. Pesawat yang ingin sekali dulu dia naiki, pesawat yang mengingatkannya pada anak bungsunya.
“pak,pak..lihat pesawat! Ada pesawat!” teriak seorang anak kecil yang lucu.
“mana? Bapak tidak lihat?” Tanya sang bapak.
“itu..pesawat! pesawat! Riki minta uang!” teriak anak kecil itu tanpa memikirkan orang-orang disawah yang terus memandanginya.
“hahaha” sang bapak hanya tertawa-tawa.
Iya. Bapak itu adalah pak Helmi yang saat itu sedang bertani bersama anaknya. Anaknya yang bungsu, namanya Riki.
“Riki kalau sudah besar mau jadi apa?” Tanya pak Helmi.
“Iki, Iki mau jadi pilot biar bisa bawa terbang bapak sama ibu ke mekah.” Katanya.
Pak Helmi tersenyum.
“emangnya Riki gak takut jadi pilot?” tanyanya.
“gak. Gak dong..pokoknya Iki mau jadi pilot nanti kita sama-sama naik pesawat kemekah yah..naik haji..” kata Riki dengan polosnya. Anak sekecil itu sudah berfikir pintar.
Beda dengan sang kakak yang lebih asik bermain dengan gargetnya, Riki sang adik justru lebih suka membantu bapaknya bekerja diladang.
Ingatan masalalu membuat pak Helmi menangis. Andai..andai saja anak bungsunya menjemputnya.
***
       Pagi ini sang mentari malu-malu menampakan sinarnya, langit mendung seolah menandakan perasaan sang mentari yang enggan menyinari bumi. Pak Helmi seperti biasa terbaring dikamarnya.
“pak Helmi, ada yang mencarimu.” Kata petugas.
“pak..pak..” berkali-kali petugas memanggil pak Helmi namun tidak ada sahutan. Hingga petugas itu masuk namun pak Helmi sudah tiada didunia ini lagi. Dia mungkin sudah bahagia bersama sang istri dan anak bungsunya disurga.
Pesawat yang ia harapkan menjemputnya menjadi kenyataan. Dia tengah tenang sekarang.
Rico anak sulungnya tersentak, setelah diberi tahu petugas dan suster yang mengurus bapaknya. Penyesalannya sia-sia. Baru saja dia berniat mengajak bapaknya pulang bersamanya, padahal satu-satunya keluarganya adalah bapaknya namun dia malah menyia-nyiakannya. Dia sangat menyesal.
Penyesalan memang selalu datang belakangan, karna itu kita harus mengubahnya dengan tidak mengulanginya lagi.
“kisah yang sedih.” Kata Keysha setelah aku selesai bercerita.
“mau kisah menarik yang lucu?” tanyaku.
Keysha tersenyum dan mengangguk.


~selesai~

Selasa, 10 Januari 2017

Hanya sekedar cerita


      Apa kabar semuanya? sudah lama sekali aku tidak membuka blog ini, entah terakhir kali kapan aku juga sudah lupa. karna kesibukan dan rutinitas yang aku alami beberapa waktu lalu sehingga tidak ada waktu untuk membuka blog.. ceileh..so sibuk sekali yah haha..
kali ini aku tidak akan memposting cerita pendek, kali ini aku hanya sekedar ingin berbagi cerita kepada kalian yang mau menyitakan waktu untuk melihat blogku yang sangat sangat jauh dari kata bagus.
sapa saja aku puji, yah..kali ini aku ingin menceritakan sebuah impian kecilku. 
pernah gak si kalian pengen keluar negri? jujur aku sangat sangat ingin pergi keluar negri apalagi kenegara matahari terbit alias jepang, kesana cuman mau ketemu pak Aoyama Gosho sang komikus Conan Edogawa atau yang kerap dipanggil Detektif Conan, sekaligus pengen lihat sakura yang pink pink gitu.
ah iya aku juga keJepang mau lihat menara Tokyo dan beberapa wisata lainnya diJepang.
namun, setelah aku hobby nonton drama Korea, akhirnya aku juga mau pergi ke Korea, aku mau mengunjungi Pulau Mina eh kok Mina kebalik sorry sorry Pulau Nami kekekeke..
aku juga mau merasakan musim dingin, gugur, semi dan panas, kalau panas si diIndonesia juga udah panas kali..
yah..tapi semua itu kini berakhir sekarang kenapa? kenapa hayoo?
karena aku telah berfikir lebih dewasa, aku seorang muslim tidak seharunya aku mengunjungi negara yang minoritas muslim, harunya aku mengunjungi negara-negara yang memang bermanfaat untuk aku kunjungi, seperti diEropa sana banyak sekali peradaban Islam yang belum aku tahui.
oh..dan juga ternyata musim salju tak seindah bayangan kita seperti didrama Korea loh.. salju itu bener bener dingin. katanya kuping atau anggota badan kita juga bisa membeku dan harus diamputasi kalau sudah beku. serem yah..
dan gugurnya bunga sakura yang indah itu juga bisa kita rasakan diIndonesia. et..tapi bukan bunga sakura hanya gugurnya pohon jati hehe.. 
yang jelas kita harus mensyukuri apa yang tuhan anugrahkan untuk kita.

Email Tak Berbalas

~EMAIL TAK TERBALAS~ 

       Angin yang berhembus masuk dari celah celah jendela membuat seluruh kamar penuh udara segar, matahari yang sudah mulai tinggi memantulkan cahayanya keding-ding kamar, berhiasan tanaman Kaktus yang tersinari cahaya ditepi jendela. Krett.. Wanita muda berparas cantik membuka jendela kamarnya, dia mulai duduk dikursi belajarnya. Sesekali dia melihat keluar jendela dan termenung sejenak, entah apa yang ada dalam pikirannya. Dia menyiapkan komputer dan mulai menghidupkannya. Dia menggumam “emm.. kini aku akan menceritakan apa?” dia bersandar pada kursi. “apa kali ini tak akan dibalas lagi?” dia bertanya pada dirinya sendiri. Dia kembali mendekat ke meja dan mulai mengetik dengan komputernya. 
Dia menulis Email untuk seseorang. 
     Saat ini disana pasti sedang musim dingin, benar bukan? Bagaimana rasanya musim dingin disana? Apakah kau kedinginan? Aku rasa kamu sangat bahagia hingga lupa membalas Emailku. Apa kamu sudah membacanya? Aku ingin sekali merasakan bagaimana rasanya dikelilingi salju putih yang dingin. Apa kamu akan mengajakku suatu hari nanti? Kapan kau akan kembali? diIndonesia aku selalu setia menunggumu hingga kamu tiba disini. Aku tak banyak berubah setelah kepergianmu keRusia, aku harap kamu juga tak banyak berubah. Fares, semoga kamu baik-baik saja disana. Oh iya, aku sudah mulai menanam pohon Kaktus, kamu pernah bilang bahwa suatu hari entah kapan itu Kaktus juga bisa berbunga , karna itu aku akan bersabar sampai hari itu tiba. Kuharap hari itu kamu juga ada disini bersamaku. Pohon Kaktus itu aku letakkan didekat jendela agar aku selalu memandangnya tiap kali merindukanmu. 
  Dia merebahkan badannya bersender pada kursi. Lalu dia menggerak-gerakkan kedua tangannya yang terasa pegal. Dia berbicara sendiri. “Email yang kukirim sebegitu panjangnya tak pernah ia balas.” Ujarnya. “awas saja kalau dia pulang aku tak akan menyambutnya.” Lanjutnya lagi. “baiklah aku akan mulai mengetik lagi.” Ujarnya. 
Ah.. aku akan menceritakan ditempat kuliahku, disana ada seorang laki-laki yang mendekatiku. Aku sudah bilang padanya kalau aku sudah mempunyai dirimu namun, selama kamu tidak disini katanya. “aku akan berusaha merebutmu.” Aku sangat kesal hingga tak bisa berkata apapun lagi. Karna kenyataannya kamu tidak ada didekatku. Fares, pernahkah sekali saja kamu merindukanku? Apa kamu tak mau pulang? Apa kamu sudah makan? diIndonesia sekarang masih jam 13.00, tapi aku yakin diRusia pasti sudah waktunya makan malam. Aku harap kamu mau membalas emailku. Anne.. 
“Hmm..” dia bergumam. Dia menatap jauh keluar jendela. Entah apa yang ada dalam pikirannya seperti dia sedang berada jauh..jauh.. dari kenyataan. Seperti dia tak mau kembali lagi pada kenyataan yang kadang terasa pahit. Menerima sesuatu yang tidak dia harapkan akan terasa sakit hingga saat dimana dia bisa menerimanya. Kapan itu terjadi? Seringkali dia menyadari hal itu, namun jauh dari dalam hatinya dia selalu menyangkalnya. Entah apa yang bisa dia lakukan? Kapan semua kembali? Dia berharap Emailnya akan segera dibalas, sehingga dia tak perlu lagi bersedih. 
Tok tok tok Suara pintu diketuk. “masuk.” Ucap gadis yang bernama Anne. “lagi? Kamu menulis Email lagi?” Tanya seorang wanita seusianya dari balik pintu. Anne mengangguk. Anggukan yang pelan. “sadarlah Anne, Emailmu tak akan pernah dibalas. Tidakkah kamu lelah melakukan semua ini?” Tanya wanita itu. “aku tidak lelah, toh dia membuka Emailku.” Jawab Anne santai. “MANA MUNGKIN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL MEMBUKA EMAILMU!” teriak wanita itu. “YESI!” Anne berteriak memanggil nama wanita itu. Dia terlihat marah. Dia menggepalkan tanggannya dan sekujur tubuhnya bergetar. Yesi memeluk Anne, pelukan dari seorang sahabat. Yesi sangat mengerti keterpurukan yang dialami Anne. Calon suaminya Fares meninggal ketika study dinegara nan jauh. Yaitu diRusia. Fares mengalami sakit yang sangat parah hingga dia meninggal dunia disana. Dan dia tak pernah bisa kembali lagi ke Indonesia termasuk jasadnya. Dia dikuburkan disana oleh ayahnya yang tinggal diRusia. Hal-hal yang selalu diimpikan mereka berdua kandas sudah, Anne yang tak pernah mau menerima kenyataan selalu mengirim email ke Fares yang sudah jelas tak akan pernah dibalas. Entah kenapa Anne selalu mengira bahwa Fares selalu membaca emailnya. Entah berapa kali Anne selalu mengirimkan cerita-cerita yang dialaminya setiap hari, hingga Yesi sudah bosan memberitahu bahwa Fares sudah tiada didunia ini. Email yang terus dia kirim menjadi tumpukan-tumpukan isi hatinya yang tak akan terbalas bahkan terbaca oleh Fares. Perasaan yang terlalu dalam membuat sebuah ego yang amat besar hingga dia menyakiti dirinya sendiri dan tidak bisa menerima kenyataan, bahkan jika dia terus terkait pada masa lalu. Bagaimanakah dia bisa menatap masa depan? “hiks..hiks..” Anne menangis dalam dekapan Yesi. “tak bisakah kamu merelakannya?” Tanya Yesi sambil mengelus rambut Anne. “bagaimana aku menerimanya jika aku tak pernah melihat jasadnya?” Tanya Anne diiringi isak tangisnya. “do’akan saja dia. Kamu tak perlu membebani diri sendiri. Jasad dan nyawanya hanya milik sang pencipta, kamu cukup mengikhlaskannya saja.” Ucap Yesi lembut. Hari itu pertama kalinya Anne menangis meluapkan segala emosi yang selama ini dia pendam. Didekapan Yesi dia menyadari satuhal bahwa dia harus belajar cara menerima kenyataan. Email yang bertumpuk, perasaan yang tertuang didalamnya, dan kerinduaan yang tak mudah diobati terbalas oleh kenyataan yang terasa pahit. 
Sungguh lucu, mereka bilang kamu sudah tiada. Bagaimana aku percaya jika jasadmu tak ada dihadapanku. Kamu masih hidupkan? Iya kan? Bagaimana mungkin? Balaslah emailku aku mohon.. Agar aku bisa membuktikan bahwa kamu masih ada. 
     Semua terjadi sesuai takdir yang tertulis. Sepintar apapun kita menyangkal namun itulah kenyataannya. Menerima adalah jalan yang terbaik. “lalu sekarang Anne dimana?” Tanya Keysha saat aku selesai bercerita. “dia bisa menerima takdir dan hidup bahagia dengan suaminya.” Kataku. “jadi dia sudah menikah?” tanyanya lagi. “iya, kau tahu pria yang Anne ceritakan ke Fares, dialah orangnya.” Ucapku. Keysha tersenyum. Kehidupan adalah sebuah perjalanan. Sampai kamu menemukan apa itu akhir bahagia.

 ~selesai~

YaAllah Kutitipkan Dia Padamu

Aku menatap heran pada Rahma."Apa?"tanyaku padanya. Rahma menghela napas "katanya kamu akan menikah?" aku tersentak mendengar pertanyan Rahma,"Apa! kata siapa aku akan menikah?" aku malah balik bertanya. "loh..keluargamu yang bilang padaku katanya kamu akan segera menikah bulan bulan ini." aku menaikan alis "darimana asal gosip itu? kuliahku baru semester tiga,masa aku akan menikah? kamu jangan bercanda Rahma!" kataku bertubi tubi. Rahma menatapku. "aku tidak bercanda keluargamu yang bilang sendiri padaku."katanya menjelaskan.
***
 Aku mempercepat langkahku.tadinya aku ingin mampir ke sebuah toko buku tapi,kubatalkan niatku begitu aku dapat kabar mengejutkan dari Rahma.bagaimana mungkin aku akan menikah dalam waktu dekat ini? batinku bertanya tanya.apa sebenarnya yang direncanakan keluargaku tanpa sepengetahuanku? batinku kembali bertanya. semua terasa membingungkan bagiku.aku didera gelombang yang bergejolak dengan rasa tanya yang membuncah dihatiku. bagaimana mungkin? pertanyaan batin yang terus berulang ulang dihati dan pikiranku.
aku menatap rumahku.begitu aku telah sampai didepan pintu rumah,rupanya keluargaku telah berkumpul diruang tamu. disana ada kak Ilyas,mba Alya,Umi,Abi,paman Umar dan juga bibi Nur, rupanya mereka tengah asik mengobrol.entah apa yang mereka obrolkan aku tak begitu mendengar dengan jelas.
"assalamu'alaikum" aku memberi salam. serentak mereka menatapku dan menjawab salamku.
"waalaikum salam"
"kamu sudah pulang Salwa?tumben cepat" tanya kak Ilyas.
"iya,kebetulan pas pelajaran terakhir dosennya tidak masuk"kataku diiringi senyum tipis dari bibirku.
"loh..tumben tidak ke toko buku? biasanya kalau ada waktu luang  kamu akan menyempatkan beli buku" kali ini kak Alya yang bertanya."lagi malas ingin cepat pulang" kataku singkat. kak Alya hanya mengangguk.
"sini duduk dulu ada yang ingin Abi bicarakan" Abi mulai buka suara. perlahan aku duduk disebelah Abi hatiku mulai berkecambuk lagi teringat pertanyaan dari Rahma yang membuat aku pusing,aku menatap Abi dan Abi tersenyum kearahku."Salwa,kamu siapkan kalau bulan depan menikah?" aku terperanjat.semua menatap kearahku,begitu melihat ekspresi keterkejutanku hatiku bergejolak tak menentu. ternyata Rahma tidak bercanda keluargaku merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku. padahal ini mengenai hidupku.
"apa? bagaimana mungkin Abi,kuliah Salwa masih semester tiga,dan lagi..siapa yang akan menikahi Salwa?" tanyaku dengan nada bergetar.
"sayang,kamu akan tetap kuliah calon suamimu juga akan menyetujuinya,kamu juga berhak melakukan segala aktifitas yang biasa kamu lakukan.jadi,tidak ada yang berubah yang berubah hanyalah status mu." kata Abi menjelaskan.
"tapi,aku belum siap Abi,lagi pula siapa calon suamiku?apa aku mengenalnya?bagaimana jika aku tak sreg dengannya?"tanyaku lagi. masih dengan nada yang bergetar.
"sayang,kata Umi kamu sudah mengenalnya? dan Abi yakin kamu akan setuju."
kini aku beralih memandang Umi. Umi malah tersenyum padaku dan berkata"kamukan pernah bercerita tentangnya sewaktu kamu duduk dibangku SMA dulu"
Aku mulaii memutar otakku,mengingat ingat siapa yang selalu aku ceritakan saat aku SMA dulu? tapi,ingatanku tak juga pulih.aku benar benar lupa. "siapa Umi?"tanyaku. kemudian Umi tersenyum dan berkata"Sayidil Anam" bergetar hatiku mendengar namanya lagi yang sudah sekian lama aku lupakan. susah payah aku melupakannya dan kenapa disaat aku tidak mengharapkannya lagi dia malah hadir dalam hidupku.
"Salwa diam,itu tandanya dia setuju.."kata Kak Ilyas. aku menatap heran. "apaan si..kak?"
"emm..adik kakak malu malu nih.." kak Ilyas meledekku. "kakak!" aku berteriak padanya.
"eh..sudah sudah"Abi menjadi penengah kami,ketika aku hendak mencubit kak Ilyas.
"nah..lamaran akan dilangsungkan besok ba'da magrib,jadi Salwa kamu bersiap siap.usahakan tidak ada acara besok karna,keluarga Anam akan datang."kat paman Umar. aku terdiam "tapi.."ucapku ragu mencoba menjelaskan keberatanku atas rencana yang mendadak ini.
"sudahlah..mungkin Salwa masih bingung.biar Umi yang jelaskan semuanya pada Salwa,ayo Salwa kita masuk kamar.kamu pasti lelah"ucap Umi. aku menunduk dan mengangguk.
 Didalam kamar aku menatap Umi mencoba mendapat iba darinya."Umi, Salwa tidak mungkin menikah dalam waktu dekat ini,Salwa ingin meraih cita cita Salwa dulu,Salwa tidak mau terikat status apapun,Salwa mau bebas dulu Umi.."kataku menjelaskan keberatanku.
"Salwa,Umi kira kamu akan senang dengan rencana ini. padahal Umi dan Abi sudah mempersiakannya dengan matang,kakak mu Ilyas dan juga istrinya Alya malahan sudah datang jauh jauh dari bogor.hanya untuk menyaksikan kebahagiaan mu,bahkan Umi sangat senang dengan disertakan kehadiran cucu pertama Umi,Fauzan disini.jadi tolong,jangan rusak kebahagiaan yang dinanti sepanjang tahun ini." ujar Umi dengan mata berkaca kaca.
aku tertegun.aku tak mungkin menggores luka dihatinya.aku tak mungkin merusak seluruh kebahagiaannya.
"baik Umi. Salwa setuju dengan semua yang Abi dan Umi lakukan demi kebahagiaan Salwa."kataku akhirnya.
"alhamdulillah"Umi mengucap syukur.
"tapi,bagaimana Umi dan Abi mengenal keluarga Sayidil Anam?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku.
"ayahnya Anam adalah temannya paman Umar.kemudian, ayahnya Anam bercerita kalau dia ingin memilihkan seorang pendamping yang cocok untuk anaknya Anam. yang akan menemani Anam karna,diusia yang masih belia Anam  sudah melanjutkan study prasarjana,dia berhasil mempercepat S1nya dan melanjutkan S2nya sesegera mungkin. sudah begitu dia asisten Dosen dan lagi,dia mantan ketua senat dikampusnya.karna itu,ayahnya akan mencarikan istri  yang cocok untuk Anam yang bisa menemaninya dalam suka dan duka.tadinya paman Umar ingin menjadikan Anam menantunya. tapi,kamu tahukan anaknya Nida masih kelas 2 SMA.akhirnya kamulah yang terpilih.Abi dan Umi langsung menyetujui rencana ini. karna, Umi dan Abi yakin kamu akan setuju."
aku hanya mendengarkan. Umi melanjutkan ucapannya."paman Umar percaya kalu Anam pendamping yang tepat untuk mu dan Abi juga Umi berpikiran demikian.jadi, Istiqorohlah dulu." Umi memelukku dan tersenyum lalu,meninggalkanku sendirian.
aku rebahan ditempat tidurku.aku menghela napas mencoba menenangkan pikiranku dan hatiku.
bayangan bayangan bertebaran diotak dan pikiranku. bayangan seseorang yang saat ini selalu menghibur dan menemaniku. dia yang sabar dan menghormati prinsipku dengan tidak mau pacaran,karna kau orang yang tidak menganut pacaran.dengan sabar dia selalu menjaga dan menasehatiku dia sahabat sekaligus orang yang kusayang.Wildan. aku teringat perkataannya saat kami berbincang ditoko buku.
"Salwa,berjanjilah kamu akan menungguku dua tahun lagi"katanya serius.
"tergantung"ucapku singkat
"kok tergantung?"tanyanya bingung.
"iya,tergantung,jangan membuat wanita berharap karna,wanita butuh kepastian.dan belum tentu kamu jodohku"
"aku yakin kamulah yg ditakdirkan tuhan untukku..dan aku janji akan segera sukses.."ucapnya penuh keyakinan.
"jangan berharap lebih wil,kita tidak akan pernah tahu takdir tuhan akan melabuhkan kita kemana.."kataku
"yang terpenting kita berfikir positif sal,"potongnya tetap teguh dengan ucapannya.
aku mulai tersadar dari lamunanku. aku mencoba mengikhlaskan semua yang telah digariskan tuhan untukku,aku titipkan cintaku padamu yaAllah..ucapku dalam hati.
perlahan aku menutup mataku dan terlelap.
***
 Ba'da Magrib
       Taaruf berjalan dengan lancar.acara pun diteruskan dengan lamaran.malam ini benar benar malam yang sangat harmonis,ikatan tali silaturahmi diantara dua keluarga yang akan bersatu menjadi keluarga.
aku memakai gamis merah muda  dengan hijab putih yang menutupi rambutku,aku hanya bisa menunduk menyaksikan lamaran ini.
aku tersenyum pada kedua orang tua Anam juga adiknya Aisyah.aku tau namanya dari Umiku.sekilas aku melihat Anam yang juga terus menunduk.
"untuk menegaskan bapak ingin bertanya sekali lagi,benarkah adinda Salwa menerima khitbah dari putra bapak Sayidil Anam?"tanya ayahnya Anam padaku.
"Bismilahirahmanirahim..saya terima khitbah akhi Sayaidil Anam.."ucapku mantap. "..dan saya terima mahar apapun yang beliau berikan"lanjutku. serentak semua menjawab "alhamdulillah."
malam bertabur bintang membalut sejuta keindahan,rembulanpun seolah tersenyum menyaksikan ikatan janji suci yang akan segera halal.
kini hatiku mantap dengan segala suratan yang tuhan gariskan untukku dan berharap akan ada hal hal baik yang mengitari hidupku.
***
 Hari demi hari terus bergulir dengan singkatnya,pada tanggal 23 hari Ahad bulan januari adalah hari bersejarah dalam hidupku dan calon imamku Anam.
akad nikah dilangsungkan hari ini. Anam dan keluarganya datang dengan segala seserahan yang mereka bawa,dari balik jendela aku melihat Anam terlihat tampan dengan pakaian yang dia kenakan.setelan jas hitam dan celana hitam.aku mulai jatuh cinta padanya lagi. aku juga telah selesai berhias tapi,sebelum Anam mengucapkan ijab khobul aku tidak boleh keluar dulu.
acara akad nikah berjalan dengan lancar, Anam mengucapkan ijab khobul dengan lantang dan tegas penuh kenyakinan"saya terima nikahnya Salwa Adinda Zahira dengan mahar 10 gram emas dan seperangkat alat sholat tunai." kemudian semua orang mengucapkan "sah.."dan mengamini memberi restu dan do'a.
hatiku lega. kini aku menjadi milik Anam. dan seluruh jiwa ragaku hanyalah untuknya,aku berharap aku bisa menjadi istri yang sholehah.
aku keluar dari kamar didampingi kak Alya dan duduk dipelaminan bersanding dengan Anam. semua tamu bersuka cita memberi ucapan selamat kepada kami,dari kerabat Anam juga dari kerabat dan teman temanku.tapi,aku tidak melihatnya,sahabatku Wildan. padahal aku sudah menitipkan undangannya pada Rahma.saat Rahma ditanya dia hanya menggeleng. mungkin Wildan kecewa,padahal sungguh aku tidak berniat mengecewakannya.aku hanya berusaha mengikhlaskan suratan takdir yang tuhan gariskan.
***
    Malam bertabur bintang diiringi candaan manja sang angin, rembulan tersenyum menyapa dua insan yang saling jatuh cinta karna Allah.
perlahan Anam duduk disampingku. dia tersenyum seraya berkata"sini aku bacakan do'a keberkahan untuk pernikahan kita" aku mengangguk. Anam memanjatkan do'a diatas ubun ubun kepalaku. aku mengamini dengan isak tangis yang keluar begitu saja,setelah selesai Anam mencium keningku.
"Barakaallah istriku.."ucapnya lembut
"terima kasih suamiku..Barakaallah"
dia tersenyum. dan kami menjadi insan yang paling bahagia malam ini.
***
     Menjadi seorang istri adalah tugas yang mulia. kini hari hariku diisi untuk membahagiakan suamiku Sayidil Anam. Anam adalah suami yang baik dan lembut,dia selalu memanjakanku,dia selalu menasehatiku, aku bahagia bersamanya. apalagi beberapa bulan ini aku mengalami gejala gejala wanita hamil dan setelah diperiksa dokter ternyata memang benar aku positif hamil. Anam sangat bahagia begitu pula dengan keluarga kami umi,abi,dan ayah serta ibunya Anam.semu terasa membahagiakan buatku.
***
    Hari,bulan dan tahun terus berganti. aku sudah melahirkan anak pertama kami hasil buah cintaku dan Anam. anak kami seorang perempuan dan kami berinama Fatiah Nur Faida. dia sangat lucu dan cantik, kulihat mata Anam berkaca kaca  saat memandanginya. kini dia seorang ayah dan aku seorang ibu.
"sayang sepertinya besok aku harus pergi ke Batam" ucap Anam tiba tiba,saat menimang nimang Fatiah. aku terkejut.
"baru beberapa hari kelahiran Fatiah masa kamu mau meninggalkannya?"tanyaku merajuk.
Anam meletakan Fatiah diboks bayi."istriku berat sebenarnya meninggalkan kalian,hanya saja ini adalah riset untuk S2 ku dan harus segera ku selesaikan agar aku bisa mendapat predikat prasarjanaku."katanya
aku menghela napas.aku tidak boleh egois.pikirku dalam hati.
"baiklah,tapi ingat harus selalu memberi kabar. oke?"
"siap!"kata Anam dengan khasnya. nyengir kuda.
tak lam kemudian Anam berangkat keBatam. rasanya sangat berat melepas kepergiannya kali ini. aku terus berdo'a menitipkannya pada Allah.
***
"Anam?" aku menatap heran."kamu mau kemana?"tanyaku
Anam tidak menjawab dia malah tersenyum dan melambaikan tanganya. pergi menjauh semakin jauh dariku. aku terperanjat."astagfirullah.."ucapku. napasku tersengal sengal,mimpi buruk.aku meludah tiga kali kearah kiri dan terus beristigfar.berharap semua hanyalah bunga tidur.
aku menggendong Fatiah dengan segenap rasa cintaku,aku menimang nimangnya tapi,tangisnya tak juga reda.entahlah semenjak kepergian Anam kebatam dia sering menangis dan rewel.aku kalut dibuatnya.apalagi dengan kejadian mimpi buruk semalam.astagfirullah aku tidak usah mengingat mimpi itu lagi, tapi kenapa aku jadi gelisah seperti ini? aku bergulat dengan hatiku sendiri.
TENG..NENG..NENG..
suara handphondku berbunyi,aku mendekati handphondku.dan kuangkat telefon itu dari nomor yang tidak aku kenali."assalamu'alaikum"ucapku
"waalaikum salam"jawab suara sipenelepon itu.sepertinya pria setengah baya aku bisa mengenalinya dari suaranya yang berat.
"benarkah ini dengan ibu Salwa?"tanyanya
"iya benar saya sendiri,ada perlu apa yah? dan dengan siapa saya bicara?"tanyaku penasaran.
"saya komandan Anto dari kepolisian batam.benarkah anda istri dari saudara Anam?"
hatiku bergetar."i..iya ada apa dengan suami saya?"tanyaku gugup.
"suami anda mengalami kecelakaan,dia tertabrak bis.dan mengalami luka luka param,mungkin dia tidak akan selamat."
aku terkapar. mataku sudah penuh dengan air mata.dadaku sesak aku tidak bisa berkata apa apa lagi.bahkan telefon pun aku abaikan."bu..ibu.."suara ditelefon terus memanggil manggil.aku tidak menyahut.aku terus menangis mendekap Fatiah yang ikut menangis.
takdir memang tak selalu dengan apa yang kita inginkan, tak selalu berjalan sesuai harapan, adakalanya takdir menghancurkan harapan harapan yang kita impikan, adakalanya selalu bertolak belakang dengan harapan dan kenyataan.tapi,semua akan indah pada akhirnya.
***
     aku menatap pedih.diatas pusaran Anam.aku hanya bisa mendo'akannya agar dia senantiasa masuk dibarisan orang orang beriman dan diterima disurganya.
aku mencoba mengikhlaskannya,menitikan seluruh cintaku pada Allah. agar suatu hari nanti kami bisa disatukan kembali disurganya.
Angin berlintas dengan semilirnya yang sejuk. wangi bunga kamboja terasa semerbak ditenggorokanku. aku melihat Fatiah yang semakin cantik dia sudah berusia satu tahun. semenjak ayahnya meninggal akulah yang mati matian merawatnya mencoba menjadi figur ibu sekaligus ayah yang baik.
aku mencoba bertahan dalam kepedihan ini. berharap suatu hari nanti akan ada kebahagiaan yang menanti kami.
    ku tatap deretan awan yang terlukis dilangit biru.ku hembuskan seluruh napas yang terasa berat, aku beranjak dari pusaran Anam berjalan melewati beberapa nisan yang entah milik siapa dan diantara rerumputan hijau aku melihat seorang pria berdiri disana melihatku.
"Wildan?"
End..

In Your Shadow


       Seindah senyuman dipagi hari, sedamai embun hiasi pagi. secerah warna mentari dan semangat para insan dibumi saat pagi hari.
aku berlari tanpa henti diiringi tawa yang riang gembira,menyusuri jalan jalan kota dan menikmati serpihan angin sejuk.
"Yumi!jangan cepat cepat"seru Yuzin padaku
"ya,yuzin kau lambat"celotehku padanya
"kau saja yang terlalu bersemangat"ucap Yuzin
"apa?terlalu bersemangat?dasar kau saja yang lambat"gerutuku padanya
Yuzin adalah sahabatku dari TK hingga aku sekarang saat SMA pun kami selalu bersama sama bisa dibilang aku seperti bayangan Yuzin yang selalu ada didekatnya.mungkin orang berfikiran kalau kami pacaran.padahal sebenarnya tidak.walaupun aku mencintai Yuzin dan mulai menganggapnya seorang laki laki dewasa saat Yuzin kelas 3 SMP dan saat itulah aku mulai mencintainya.Yuzin orang yang pandai Matematika,dia sering dikirim sekolah untuk olimpiade,selain itu hobby Yuzin adalah Melukis.dia suka melukis berbagai pemandangan yang ada dalam imajinasinya.
sebenarnya aku juga suka melukis hanya saja tidak semahir dan sebagus Yuzin,tapi karena ingin selalu bersamanya aku ikutan klub kesenian dan lukisanku paling jelek tak apalah semua demi Yuzin.Yujin bahkan pernah bilang"emm..lukisanmu tidak berkembang"aku hanya berkata"kan tahap belajar"dia hanya diam.aku orangnya tidak mementingkan penampilan.bahkan seringkali kaoskaki yang aku pakai suka ketuker,dan Yuzin orang pertama yang paling bawel dalam hidupku kalau aku berbuat sembarangan dialah yang suka komentar.terus hobby aku nonton drama drama yang romantis,misalnya drama korea.aku juga suka horor.intinya hobby aku nonton.
aku juga suka sekali hujan.karna,serasa ada kedamaian dalam hujan itu.
"Yumi!"panggil Yuzin padaku ketika tidak terasa sudah sampai dikelas.
"apa?"tanyaku jutek
dia menjembil pipiku "auu"ucapku kesakitan "apa sih!?"gerutuku
"kamu itu,yah..tetap gak berubah.lihat tuh kaoskaki mu!"kata Yuzin
aku cengengesan"aku buru buru.habis kamu menjemputku terlalu pagi"
"kamu saja pemalas"
"ah..sudah!kamu selalu membuatku emosi"
"yasudah.contekan matematika batal!"Yuzin memalingkan muka
aku mendekatinya"yah..oppa,apa kamu tega padaku"manjaku
Yuzin terlihat geli "apa apa?oppa?"herannya
aku mengangguk dengan gaya manisku.Yuzin memegang keningku"sepertinya kau sakit" aku menepisnya "hey.." Yuzin malah tertawa "haha..rupanya menonton drama korea membuatmu sakit rupanya"
"BABO!Yuzin BABO!"teriakku
Yuzin menutup mulutku"ih..dasar bawel" "ih..dasar"gerutuku
kemudian Ibu Merkuri datang dan candaanku dengan Yuzin pun terhenti.
"pagi anak anak.."sapa Bu Merkuri
"pagi bu"jawad serentak
"sekarang kalian buka Bab 1 Hal 5 yah.."ujar bu Merkuri
"iya bu.."jawad seisi kelas kompak
Yuzin menarik kerudungku"auu.."aku berbalik"apa sih?"tanyaku sewot.
Yuzin duduk dibelakang bangkuku dan hobby nya selalu menarik kerudungku.kemudian dia memberikan buku padaku"nih.."ucapnya
rupanya itu contekan matematika untukku,asik..dalam hati aku senang.
aku tersenyum"gomawo oppa,oppa baik deh.."aku mengedip ngedipkan mataku
Yuzin menaikan alisnya"ih..dasar"katanya singkat
aku mesem mesem sendiri,sekilas Yuzin menatapku "apa?"tanyaku datar padanya,dia hanya memalingkan muka.dasar.
***
TENG TENG TENG
bel berbunyi tiga kali menandakan istirahat. Yuzin menarik kerudungku lagi.aku menyesal duduk didepannya.
"ih..apa sih"tanyaku
"ke kantin yuk!"ajaknya
aku menggeleng"tidak,aku bekal mau?"
"wah..siapa yang buat?"
"ibuku " dia menghampiri bangkuku "kalau gitu aku mau"
aku dan Yuzin sama sama memakan bekalku,kulihat Yuzin makan dengan lahapnya. aku tersenyum mengamatinya."kamu lapar atau doyan si?"candaku padanya. dia menghentikan makannya"dua duanya"katanya singkat.aku tertawa dia pun ikut tertawa. kebersamaan inilah yang selalu aku rindukan,rasanya aku tidak ingin berada jauh darinya.sudah 2 tahun aku memendam cinta padanya tapi,aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku ini.aku terlalu takut,takut menimbulkan jera dan malah merusak persahabatan yang sudah terjalin sekian lama.dulu,waktu aku kelas 3 SMP aku mulai mencoba mengubah penampilanku yang apa adanya menjadi lebih anggun.seluruh seragam ku gosok licin dengan setrika dan ku tempeli bros motif bunga dikerudungku yang sebelumnya hanya menggunakan pentul.sepatuku kuganti dari yang sepatu sport menjadi sepatu pentopel yang elegan.alhasil saat disekolah semua memperhatikanku.dan berkata"Yumi,tambah manis deh.." "makasih"ucapku malu malu.Yuzin hanya diam saat setiap laki laki mendekatiku,entahlah kenapa dia jadi dingin saat itu.
dan aku memutuskan berpenampilan biasa lagi karna,aku tidak mau menjauh dari Yuzin.
"hey!"Yuzin mengagetkanku.aku tersadar dari lamunanku."apa?"tanyaku
dia menghela napas"kamu kenapa si?akhir akhir ini suka ngelamun,lagi mikirin aku ya?"candanya padaku.
"ih..geer"kataku
"kalau begitu,kenapa?"tanyanya
aku tersenyum"tidak apa apa"
"yasudah"dia meneruskan makannya lagi.
***

  Matahari mulai memancarkan sinarnya yang terik,siang ini aku dan Yuzin bergabung dengan klub kami dan mulai menuangkan cat warna warni kekanvas putih.
"Yuzin"panggilku pelan pada Yuzin
"nih.."aku menyodorkan 3 amplop merah jambu yang dititipkan 3 adik kelasku tadi,yang terus memaksaku"ayo dong kak,kakak kan sahabatnya kak Yuzin sudah begitu satu kelas dan satu klub lagi"kata salah seorang diantara ketiga anak itu.aku mencoba tersenyum"kenapa tidak dikasih langsung?"tanyaku.
"kami malu kak"jawad ketiganya.aku menghela napas."baiklah"kataku."hore!makasih kak"ucap mereka kegirangan.nah..begitulah awal mula surat merah jambu ini.Yuzin tiba tiba tertawa"haha kamu ditembak cewe?kamu maco si."candanya.aku mulai jengkel dan mencubitnya"ini buat kamu bodoh!!"teriakku padanya.
Yuzin terdiam.dia menatap langit dalam."aku tidak mau memikirkan itu.aku ingin fokus sama hobiku dan cita citaku" katanya lembut.aku tersenyum.bagus Yuzin,karna aku tidak mau kehilanganmu.
setelah latihan klub selesai aku dan Yuzin pulang dengan mengendara sepeda birunya Yuzin,aku dibonceng dibelakang."Yuzin!"panggilku mencoba memulai percakapan."apa?"tanyanya.
"aku ingin tau,ketika kamu melukis apa yang kamu pikirkan?"tanyaku.
aku ingin tau Yuzin,dunia dalam lukisanmu karna,kamu seakan jauh dariku seakan ada jarak denganmu saat kamu sibuk menggores kuasmu.
"entahlah.Yumi,aku hanya ingin pergi kesuatu tempat yang aku lukis.dan aku selalu merasa bahagia saat aku melukis.kalau kamu?"dia balik bertanya. "a..aku...aku hanya senang"jawadku gugup."senang?"tanyanya tak mengerti."ah..sudahlah.lihat saja kejalan!" Yuzin menaikan alisnya.aku menghela napas.alasan aku melukiskan karna kamu Yuzin,masa aku harus bilang begitu?aku berpikir dalam hati.
***

"Yumi!!"Yuzin memanggilku keras."apa si?"tanyaku
"hari ini kita harus keklub,soalnya ada pemilihan anggota baru"kata Yuzin
"ah..malas.hari ini kan minggu"
"ini penting.sebagai anggota kamu harus ikut"
"gak mau malas.wee"aku menjulurkan lidahku.Yuzin menarik tanganku
"ayo!aku sudah susah susah kerumahmu"gerutunya
"rumah kitakan dekat"celotehku
"ah..ayo!!"Yuzin terus memaksaku.akhirnya aku ikut dengannya.
sekolah sepi saat ini.hanya klub kesenian yang beranggotakan 20 orang yang hadir dan 5 anggota baru yang terpilih,semuanya terdiri dari 1 wanita dan 4 laki laki.memang di klub kesenian lebih dominan laki laki dibanding perempuan.keseluruhan perempuan hanya ada 5 orang.
aku terus memandangi anak perempuan yang anggota baru itu.dia sangat imut.bahkan anggota klub laki laki terpesona melihatnya.aku beralih pandangan pada Yuzin yang sibuk mengurus formulir,bagaimana dengan pendapat Yuzin yah?tanyaku dalam hati.
"lihat Yumi"Siska dan yang lainnya menghampiriku."tebar pesona tuh.."celotehnya sambil menunjuk anggota baru itu."tapi,dia memang imut"kataku seadanya."kamu gak takut Yuzin juga terpikat?"tanya Siska.
"Yuzinkan sahabatku"ucapku datar.
memang aku hanya sahabatnya,lalu aku harus bilang apa.
setelah itu anggota baru itu sangat populer dikalangan laki laki,oh..iya namanya ternyata Aoi,tapi,dia selalu diganggu oleh anak anak yang sirik padanya. saat itu aku melihat dia didorong oleh seorang perempuan yang entah siapa aku tidak kenal, saat aku mau menolongnya tiba tiba Yuzin datang dan malah menolongnya. aku  terdiam dan melihat mereka dari jauh."tidak apa apa?" tanya Yuzin padanya."iya,makasih kak.."ucap Aoi dengan raut muka manisnya.
aku sadar dibanding Aoi aku tidak ada apa apanya tapi rasanya aku tidak mau Yuzin menjauh dariku. tidak. tidak mau.
"Yuzin,aku minta penghapus" kataku pada Yuzin saat kami berdua sedang diruangan klub."nih" Yuzin menyodorkan penghapus.
TOK..TOK..
suara ketukan pintu. aku beranjak dan membuka pintu aku terkejut ternyata itu Aoi "eh..Aoi,ada apa yah?"tanyaku.
"em..em..ini kak" dia malu malu menyodorkan bekal makanan yang dibungkus rapih."..untuk kak Yuzin" lanjutnya. aku melirik Yuzin."maaf,tapi kurasa dia tidak mau." pikirku
"masa kak?" tanya Aoi heran.
lalu Yuzin menghampiri kami."eh..bekal untukku?" tanya Yuzin.
"i..iya kak" jawad Aoi gugup."sini,sayang kalau gak dimakan.makasih yah.." kata Yuzin.
Aoi tersenyum "sama sama kak".
aku tidak menduga kalau Yuzin akan menerima bekal itu. aku hanya bisa berdiri melihat mereka bergurau ria.
***
    cuaca yang mendung semendung hatiku. untuk yang pertama kalinya aku tidak mengikuti latihan klub.aku termenung sendiri dikelas. meratapi serpihan sepihan daun yang jatuh dari pohon belakang sekolah.kubaringkan badanku setengah. aku mencoba tegar. kini seperti ada jarak diantara aku dan Yuzin.
"kak,kok masih disini?" tanya suara di belakangku. 
aku berbalik. sudah ada Aoi dan Yuzin dibelakangku, mereka sepertinya hendak mengambil bangku untuk keperluan klub karna bangku diklub memang sedikit.
"hey,ayo keklub"ajak Yuzin
"gak.malas." jawabku ketus.
"kenapa?"Yuzin menghampiriku.
"gak apa apa." jawabku datar.
"ada masalah?"tanyanya lagi. aku hanya menggeleng. Yuzin mengelus elus kepalaku.membuat aku semakin ingin menangis.aku mencoba bertahan.
"kak,ayo kita keklub semua pasti sudah menunggu" kata Aoi
"iya" kata Yuzin. dia menatapku sekilas.
"kak Yumi kenapa si? sakit? atau kenapa? kalau sakit pulang saja kak."perkataan Yumi membuat aku kesal.
"GAK USAH IKUT CAMPUR!" tiba tiba perkataan itu keluar dari mulutku.Yuzin dan Aoi terkejut.
"ayo Aoi kita pergi" Yuzin menggandeng tangan Aoi dan meninggalkanku. mungkin dia kecewa melihat kelakuanku.
***
     Olompiade Matematika sudah dekat, biasanya aku selalu menyemangatinya tapi kali ini bahkan aku tidak menemaninya latihan. maaf Yuzin.
"Yumi" ibuku memanggilku. "iya mah" jawabku mendekatinya. "sayang,keluarga Yuzin sedang ada urusan di Singapore, dia pasti sendirian dan belum sarapan, ayo antarkan."dengan ragu ragu aku mengangguk.
aku pergi kerumah Yuzin.rumahnya terlihat sepi.pintunya tidak dikunci,tapi tidak ada orang. aku rasa Yuzin sedang dikamar mandi atau sedang keluar rumah.ruang tamunya seperti biasa tertata rapih. aku memanggil manggil Yuzin tapi, tak ada jawaban. dengan memberanikan diri aku menaiki tangga menuju kamarnya. aku terkejut ketika melihat kamarnya disana terpangpang lukisan besar dan lukisan itu adalah lukisan seorang wanita yang sangat cantik dan manis. "mungkin itu Aoi." pikirku dalam hati. Yuzin mencintai Aoi.
"siapa?"tanya seseorang dari arah dapur.buru buru aku turun dari tangga dan menghampiri Yuzin "nih" kataku. belum sempat Yuzin bertanya. aku memutuskan segera pergi. aku tidak berani melihat wajahnya.
    Disekolah semua sedang sibuk membuat poster poster penyemangat untuk yang melakukan olimpiade. aku hanya terdiam menatap mereka. seakan tak ada semangat.
"Yuzin kamu harus menang!" kata Sena teman Yuzin.
"aku ragu Sen.."kata Yuzin. membuat aku berbalik menatapnya. dia juga menatapku
"kenapa ada masalah?" tanya Sena
"tidak. hanya saja aku seperti kehilangan separuh jiwaku." Yuzin menjawab sambil terus memandangku. aku menunduk. menghela napas. apa maksudnya? batinku bertanya tanya.
Sena hanya bingung dengan ucapan Yuzin.
***
       Yuzin merapihkan bajunya. dia akan bersiap mengikuti lomba. aku mendekatinya.
"SEMANGAT Yuzin!!" teriakku pada telinganya. Yuzin menutup telinganya
"BERISIK BODOH!" gerutunya. aku tertawa,Yuzin tersenyum "tapi,terima kasih" katanya.
"ada yang ingin aku katakan" kata Yuzin serius.
aku tersenyum "aku tau. kamu mau bilang mencintai Aoi kan? aku senang dan ikut bahagia jika kalian bersama." Yuzin terlihat bingung.
aku berlari menjauh darinya. aku tak bisa menahan tangisku. aku menangis di sebuah taman.
"BODOH!!BABO!!eh..sama aja. huakkkkk.." aku menangis seperti anak kecil. aku malu. tapi,aku sakit hati.
"Yuzin..aku suka kamu"ucapku pelan."huakkk..hiks hiks"aku menangis lagi.tiba tiba ada yang memberi minuman dari belakang."makasih,nanti kubayar"ucapku tanpa berbalik."tidak usah bayar"kata sipemberi minuman.aku menengok dan aku terkejut.ternyata dia adalah Yuzin."ah..PERGI!aku malu.jangan lihat.SANA PERGI!"aku berteriak."DASAR BODOH!"teriak Yuzin padaku
"yang aku sukai bukan Aoi.kamu salah paham"lanjutnya.aku terdiam.Yuzin mendekatiku."yang aku sukai adalah kamu Yumi.."aku tertegun."..setiap hari setiap jam dan detik kita selalu bersama dan aku tidak mau melepasmu Yumi.."dia menghela napas"aku seperti..ingin selalu menjadi napas untuk selalu kau hirup dan aku ingin menjadi embun yang menyambut pagimu.."lanjutnya.
aku menatapnya dalam"hiks..hiks.." aku terisak.
"lukisan dikamarmu itu siapa?" tanyaku. dia menjitak kepalaku "itu kan kamu. masa gak sadar si?" kata Yuzin.
"gak mirip!" kataku cemberut. Yuzin tertawa."itukan saat kamu kelas 3 SMP."
"oh..jadi kamu suka padaku dari kelas 3 SMP?" tanyaku.
Yuzin menggeleng "bukan dari kelas 6 SD"
"hhah? masa?"
"iya..saat kamu memelukku waktu aku dibawa kerumah sakit karna aku jatuh dari pohon dan terluka parah"
"oh..berarti..kamu sudah lama mencintaiku? kenapa gak bilang?"
"aku takut kamu tidak mencintaiku"
aku tertegun. "ternyata ketakutan kita sama." ucapku dalam hati. Yuzin memegang tanganku "tapi sekarang aku bahagia"
aku tersenyum.aku juga.sekarang bayanganku dan bayanganmu sudah bersatu.
"eh..kamukan harus ikut olimpiade." aku tersadar
Yuzin menatapku."kamu dukung aku dong!".
"iya,nanti aku mendukungmu.dan menyemangatimu..YUZIN SEMANGAT YUZIN SEMANGAT" teriakku kencang.
"ah..terlalu semangat itu mah" Yuzin geleng geleng.
"dasar bawel" celotehku.
"kamu yang bawel" gerutu Yuzin.
"kamu"aku mencubit Yuzin dan berlari.Yuzin mengejarku
kami berdua tertawa bersama.melihat mentari yang terus menyinari kami dan bayangan kami berdua.
END..

serpihan Hati Ibu

   S erpihan hati dikala sedihku,senangku dan dukaku selalu ada ibu didalamnya.
ibu..aku bukan ratu yang harus selalu kau manjakan
aku juga bukanlah seorang putri yang selalu dibelai lembut dan tidak dinasehati.
akulah anakmu dengan segala kekurangan yang seringkali membuat ibu menangis.
aku adalah anak seorang penjual nasi kuning.ayahku meninggal saat usiaku 15 tahun,karna itu,tumpuan kami satu satunya adalah ibu.
awalnya ibuku sehat sehat saja tapi,hingga suatu hari kejadian naas itu terjadi.ibu mengalami kecelakaan dijalan raya saat ibu akan menuju kepasar mengantarkan nasi kuning.saat itu tiba tiba sepeda motor menyelip dari belakang dengan kecepatan tinggi dan menabrak ibuku yang sedang menyebrang jalan.saat itu aku hanya bisa menangis memanggil manggil"ibu..ibu..ibu.."rintihku dalam isak tangis yang tertahan karna ketakutan kehilangan ibu.aku adalah anak satu satunya yang ibu punya.dan ibuku adalah hal yang paling berharga satu satunya yang aku punya.
semenjak kejadian itu aku selalu mengingat orang yang telah menabrak ibuku.dia siswa SMA yang tidak punya hak sama sekali membuat ibuku menderita.sampai sekarang aku begitu membencinya.gara gara dia ibuku harus kehilangan kedua kakinya.ibuku mengalami lumpuh total.semua gara gara lelaki jahat itu!aku membencinya!
"Zia.."panggil ibu dengan lembut
"iya bu.."aku langsung menyahut dan mendekatinya
"ini nasi kuningnya,loh..kamu belum siap siap?teman temanmu pasti sudah kelaparan nunggu nasi kuningnya"kata ibu
"tenang bu,mereka biasa membeli nasi kuning pas istirahan saja."sahutku santai
"oo.."sahut ibu
sebenarnya aku malas sekolah.sekarang aku sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi aku harus mempersiapkan ke UNIVERSITAS.tapi,melihat kondisi ibu aku rasa aku tidak akan pernah menginjakkan kaki diUNIVERSITAS.bisa SMA saja aku sudah bersyukur.
"Zia,pergi dulu yah bu..assalamualaikum" aku berpamitan pada ibu dan mencium kedua tangannya.
"waalaikum salam..hati hati"jawad ibu.

aku menyelusuri jalanan yang mulai dipadati kendaraan.orang orang berlalu lalang dengan santai padahal sebentar lagi hampir jam masuk kerja.itulah perbedaan Indonesia dengan Jepang.sekarang pasti warga Jepang sudah terbirit birit karna hampir terlambat.
sebenarnya aku ingin sekolah diluar negri.membanggakan ibuku.tapi,apa aku bisa? pelajaran yang aku sukai hanya Sastra.dan aku minus di matematika.padahal kebanyakan beasiswa kan di sistim eksak.entahlah..tuhan..kenapa hidupku seperti ini?
"kak,"seorang anak kecil menarik seragamku.aku menatapnya iba.bajunya compang camping dan tanpa alas kaki.
"mau dengarkan suaraku"ucapnya.sepertinya dia pengamen pikirku dalam hati.lalu aku mengangguk.
dia tersenyum dan bernyanyi.suaranya cukup merdu buatku,setidaknya tidak mengganggu pendengaranku.
selesai bernyanyi aku memberikan uang receh 5000 padanya.dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku.dan berlalu pergi.ternyata ada yang lebih menderita dari pada aku.tuhan..mungkin aku kurang bersyukur.
***
sesampainya digerbang sekolah aku langsung menuju kekelasku.tapi,tiba tiba Reyna menghampiriku dan menggandeng lenganku"kesini sebentar"katanya
"ada apa?"tanyaku heran.
"lihat!"dia berseru dan menunjuk kemading.dimading itu tertulis:
BAGI KALIAN YANG HOBI GAMBAR. BURUAN IKUTAN!!
GAMBAR BEBAS ASAL TAMPILAN MENARIK
PEMENANGNYA DAPAT TIKET JALAN JALAN DIJEPANG!!
BURUAN TUNGGU APA LAGI!!
aku tersenyum."apa aku bakal menang?"tanyaku
"coba aja dulu.aku yakin kamu bisa.kamu kan pintar gambar"kata Reyna memberi semangat
dengan percaya diri yang luar biasa aku mendaftar ke ketua panitia.aku adalah peserta ke 22 dan ternyata semuanya ada 50 peserta,kemudian disaring menjadi 20 peserta lalu,disaringlagi menjadi 10 peserta.barulah akan dikirim keJakarta dan ditandingkan lagi dengan sekolah sekolah lain hingga hanya ada 3 orang yang mendapat beasisiwa ke Jepang.

 aku berlatih dengan kerasnya,karna persaingan cukup ketat.tapi berkat usahaku aku berhasil terpilih menjadi 10 besar.aku bahagia sekali.semakin hari aku semakin sering berlatih hingga melupakan membantu ibuku.
"Zia,bantu ibu sebentar"sahut ibu
"Zia sibuk bu,masih ada lomba"
ibu hanya terdiam.maaf bu,bukan bermaksud mengecewakanmu.gumamku dalam hati.
***
aku dan peserta lain yang lolos berangkat menuju Jakarta.
hatiku dag dig dug tak menentu,aku gemetar ketakutan.tapi,aku bersikeras untuk menang!aku pasti menang!!itulah hal yang terus aku ucapkan dalam hatiku.
setelah melakukan pembuatan gambar,pemenangnya pun diumumkan..
panitia mulai membacakan kertas putih kecil"pemenang lomba menggambar jatuh pada...Alfa,Tiara dan Zia!!"
aku tersungkur dalam tangisku.aku bahagia saat itu.aku menangis tapi,untuk yang pertama kalinya ini tangisan bahagiaku.
aku menaiki panggung.dan mendapatkan piala bersama dua orang lainnya yang tidak aku kenal tapi,aku bahagia.
tapi,tiba tiba panitia berkata"mohon maaf sebelumnya,diantara kalian akan ada satu orang yang tidak bisa ikut keJepang dikarnakan penyelenggara ini mencabut satu beasiwa jadi hanya 2 orang saja.sekali lagi dari sponsor acara ini.kami mohon maaf yang sebesar besarnya.tapi,kami akan menyerahkan uang tunai seharga 50 juta untuk permohonan maaf dari kami.."aku menjadi pucat.panitia melanjutkan"dan..Zia mohon maaf,karna kamu juara 3 jadi,kamu tidak bisa pergi keJepang"
impianku buyar seketika.aku menahan tangis sebisaku dan mencoba tersenyum saat ketua acara itu memberikan uang tunai 50 juta.
diperjalanan pulang aku merasa kecewa.benar benar kecewa.
aku pulang dengan hati hampa.seluruh perjuanganku pengorbananku sia sia.aku langsung masuk kekamarku,ibuku menghampiri"kenapa Zia?bagaimana lombanya"
"aku menang bu.juara 3"
"wah..alhamdulillah..lalu kenapa malah sedih?"
"karna suatuhal juara 3 tidak bisa keJepang"aku mencoba menahan tangis.ibu termenung lalu tersenyum
"sudahlah,mungkin bukan rezeki.kalau keJepangnya diganti beribadah ketanah suci bagaimana?"
"maksud ibu?"tanyaku tak mengerti
"kita umrah bersama yah.."
aku tersenyum dan memeluk ibu.,kutatap langit biru.terima kasih tuhan..
end...