~EMAIL TAK TERBALAS~
Angin yang berhembus masuk dari celah celah jendela membuat seluruh kamar penuh udara segar, matahari yang sudah mulai tinggi memantulkan cahayanya keding-ding kamar, berhiasan tanaman Kaktus yang tersinari cahaya ditepi jendela.
Krett..
Wanita muda berparas cantik membuka jendela kamarnya, dia mulai duduk dikursi belajarnya. Sesekali dia melihat keluar jendela dan termenung sejenak, entah apa yang ada dalam pikirannya.
Dia menyiapkan komputer dan mulai menghidupkannya. Dia menggumam “emm.. kini aku akan menceritakan apa?” dia bersandar pada kursi. “apa kali ini tak akan dibalas lagi?” dia bertanya pada dirinya sendiri.
Dia kembali mendekat ke meja dan mulai mengetik dengan komputernya.
Dia menulis Email untuk seseorang.
Saat ini disana pasti sedang musim dingin, benar bukan? Bagaimana rasanya musim dingin disana? Apakah kau kedinginan? Aku rasa kamu sangat bahagia hingga lupa membalas Emailku.
Apa kamu sudah membacanya? Aku ingin sekali merasakan bagaimana rasanya dikelilingi salju putih yang dingin. Apa kamu akan mengajakku suatu hari nanti? Kapan kau akan kembali? diIndonesia aku selalu setia menunggumu hingga kamu tiba disini.
Aku tak banyak berubah setelah kepergianmu keRusia, aku harap kamu juga tak banyak berubah. Fares, semoga kamu baik-baik saja disana.
Oh iya, aku sudah mulai menanam pohon Kaktus, kamu pernah bilang bahwa suatu hari entah kapan itu Kaktus juga bisa berbunga , karna itu aku akan bersabar sampai hari itu tiba. Kuharap hari itu kamu juga ada disini bersamaku. Pohon Kaktus itu aku letakkan didekat jendela agar aku selalu memandangnya tiap kali merindukanmu.
Dia merebahkan badannya bersender pada kursi. Lalu dia menggerak-gerakkan kedua tangannya yang terasa pegal.
Dia berbicara sendiri. “Email yang kukirim sebegitu panjangnya tak pernah ia balas.” Ujarnya.
“awas saja kalau dia pulang aku tak akan menyambutnya.” Lanjutnya lagi.
“baiklah aku akan mulai mengetik lagi.” Ujarnya.
Ah.. aku akan menceritakan ditempat kuliahku, disana ada seorang laki-laki yang mendekatiku. Aku sudah bilang padanya kalau aku sudah mempunyai dirimu namun, selama kamu tidak disini katanya. “aku akan berusaha merebutmu.”
Aku sangat kesal hingga tak bisa berkata apapun lagi. Karna kenyataannya kamu tidak ada didekatku.
Fares, pernahkah sekali saja kamu merindukanku? Apa kamu tak mau pulang?
Apa kamu sudah makan? diIndonesia sekarang masih jam 13.00, tapi aku yakin diRusia pasti sudah waktunya makan malam. Aku harap kamu mau membalas emailku.
Anne..
“Hmm..” dia bergumam. Dia menatap jauh keluar jendela. Entah apa yang ada dalam pikirannya seperti dia sedang berada jauh..jauh.. dari kenyataan. Seperti dia tak mau kembali lagi pada kenyataan yang kadang terasa pahit.
Menerima sesuatu yang tidak dia harapkan akan terasa sakit hingga saat dimana dia bisa menerimanya. Kapan itu terjadi?
Seringkali dia menyadari hal itu, namun jauh dari dalam hatinya dia selalu menyangkalnya. Entah apa yang bisa dia lakukan? Kapan semua kembali?
Dia berharap Emailnya akan segera dibalas, sehingga dia tak perlu lagi bersedih.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk. “masuk.” Ucap gadis yang bernama Anne.
“lagi? Kamu menulis Email lagi?” Tanya seorang wanita seusianya dari balik pintu.
Anne mengangguk. Anggukan yang pelan.
“sadarlah Anne, Emailmu tak akan pernah dibalas. Tidakkah kamu lelah melakukan semua ini?” Tanya wanita itu.
“aku tidak lelah, toh dia membuka Emailku.” Jawab Anne santai.
“MANA MUNGKIN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL MEMBUKA EMAILMU!” teriak wanita itu.
“YESI!” Anne berteriak memanggil nama wanita itu. Dia terlihat marah. Dia menggepalkan tanggannya dan sekujur tubuhnya bergetar.
Yesi memeluk Anne, pelukan dari seorang sahabat. Yesi sangat mengerti keterpurukan yang dialami Anne. Calon suaminya Fares meninggal ketika study dinegara nan jauh. Yaitu diRusia. Fares mengalami sakit yang sangat parah hingga dia meninggal dunia disana. Dan dia tak pernah bisa kembali lagi ke Indonesia termasuk jasadnya. Dia dikuburkan disana oleh ayahnya yang tinggal diRusia.
Hal-hal yang selalu diimpikan mereka berdua kandas sudah, Anne yang tak pernah mau menerima kenyataan selalu mengirim email ke Fares yang sudah jelas tak akan pernah dibalas. Entah kenapa Anne selalu mengira bahwa Fares selalu membaca emailnya. Entah berapa kali Anne selalu mengirimkan cerita-cerita yang dialaminya setiap hari, hingga Yesi sudah bosan memberitahu bahwa Fares sudah tiada didunia ini.
Email yang terus dia kirim menjadi tumpukan-tumpukan isi hatinya yang tak akan terbalas bahkan terbaca oleh Fares.
Perasaan yang terlalu dalam membuat sebuah ego yang amat besar hingga dia menyakiti dirinya sendiri dan tidak bisa menerima kenyataan, bahkan jika dia terus terkait pada masa lalu. Bagaimanakah dia bisa menatap masa depan?
“hiks..hiks..” Anne menangis dalam dekapan Yesi.
“tak bisakah kamu merelakannya?” Tanya Yesi sambil mengelus rambut Anne.
“bagaimana aku menerimanya jika aku tak pernah melihat jasadnya?” Tanya Anne diiringi isak tangisnya.
“do’akan saja dia. Kamu tak perlu membebani diri sendiri. Jasad dan nyawanya hanya milik sang pencipta, kamu cukup mengikhlaskannya saja.” Ucap Yesi lembut.
Hari itu pertama kalinya Anne menangis meluapkan segala emosi yang selama ini dia pendam. Didekapan Yesi dia menyadari satuhal bahwa dia harus belajar cara menerima kenyataan.
Email yang bertumpuk, perasaan yang tertuang didalamnya, dan kerinduaan yang tak mudah diobati terbalas oleh kenyataan yang terasa pahit.
Sungguh lucu, mereka bilang kamu sudah tiada. Bagaimana aku percaya jika jasadmu tak ada dihadapanku. Kamu masih hidupkan? Iya kan? Bagaimana mungkin?
Balaslah emailku aku mohon..
Agar aku bisa membuktikan bahwa kamu masih ada.
Semua terjadi sesuai takdir yang tertulis. Sepintar apapun kita menyangkal namun itulah kenyataannya. Menerima adalah jalan yang terbaik.
“lalu sekarang Anne dimana?” Tanya Keysha saat aku selesai bercerita.
“dia bisa menerima takdir dan hidup bahagia dengan suaminya.” Kataku.
“jadi dia sudah menikah?” tanyanya lagi.
“iya, kau tahu pria yang Anne ceritakan ke Fares, dialah orangnya.” Ucapku.
Keysha tersenyum.
Kehidupan adalah sebuah perjalanan. Sampai kamu menemukan apa itu akhir bahagia.
~selesai~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar