Selasa, 10 Januari 2017

YaAllah Kutitipkan Dia Padamu

Aku menatap heran pada Rahma."Apa?"tanyaku padanya. Rahma menghela napas "katanya kamu akan menikah?" aku tersentak mendengar pertanyan Rahma,"Apa! kata siapa aku akan menikah?" aku malah balik bertanya. "loh..keluargamu yang bilang padaku katanya kamu akan segera menikah bulan bulan ini." aku menaikan alis "darimana asal gosip itu? kuliahku baru semester tiga,masa aku akan menikah? kamu jangan bercanda Rahma!" kataku bertubi tubi. Rahma menatapku. "aku tidak bercanda keluargamu yang bilang sendiri padaku."katanya menjelaskan.
***
 Aku mempercepat langkahku.tadinya aku ingin mampir ke sebuah toko buku tapi,kubatalkan niatku begitu aku dapat kabar mengejutkan dari Rahma.bagaimana mungkin aku akan menikah dalam waktu dekat ini? batinku bertanya tanya.apa sebenarnya yang direncanakan keluargaku tanpa sepengetahuanku? batinku kembali bertanya. semua terasa membingungkan bagiku.aku didera gelombang yang bergejolak dengan rasa tanya yang membuncah dihatiku. bagaimana mungkin? pertanyaan batin yang terus berulang ulang dihati dan pikiranku.
aku menatap rumahku.begitu aku telah sampai didepan pintu rumah,rupanya keluargaku telah berkumpul diruang tamu. disana ada kak Ilyas,mba Alya,Umi,Abi,paman Umar dan juga bibi Nur, rupanya mereka tengah asik mengobrol.entah apa yang mereka obrolkan aku tak begitu mendengar dengan jelas.
"assalamu'alaikum" aku memberi salam. serentak mereka menatapku dan menjawab salamku.
"waalaikum salam"
"kamu sudah pulang Salwa?tumben cepat" tanya kak Ilyas.
"iya,kebetulan pas pelajaran terakhir dosennya tidak masuk"kataku diiringi senyum tipis dari bibirku.
"loh..tumben tidak ke toko buku? biasanya kalau ada waktu luang  kamu akan menyempatkan beli buku" kali ini kak Alya yang bertanya."lagi malas ingin cepat pulang" kataku singkat. kak Alya hanya mengangguk.
"sini duduk dulu ada yang ingin Abi bicarakan" Abi mulai buka suara. perlahan aku duduk disebelah Abi hatiku mulai berkecambuk lagi teringat pertanyaan dari Rahma yang membuat aku pusing,aku menatap Abi dan Abi tersenyum kearahku."Salwa,kamu siapkan kalau bulan depan menikah?" aku terperanjat.semua menatap kearahku,begitu melihat ekspresi keterkejutanku hatiku bergejolak tak menentu. ternyata Rahma tidak bercanda keluargaku merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku. padahal ini mengenai hidupku.
"apa? bagaimana mungkin Abi,kuliah Salwa masih semester tiga,dan lagi..siapa yang akan menikahi Salwa?" tanyaku dengan nada bergetar.
"sayang,kamu akan tetap kuliah calon suamimu juga akan menyetujuinya,kamu juga berhak melakukan segala aktifitas yang biasa kamu lakukan.jadi,tidak ada yang berubah yang berubah hanyalah status mu." kata Abi menjelaskan.
"tapi,aku belum siap Abi,lagi pula siapa calon suamiku?apa aku mengenalnya?bagaimana jika aku tak sreg dengannya?"tanyaku lagi. masih dengan nada yang bergetar.
"sayang,kata Umi kamu sudah mengenalnya? dan Abi yakin kamu akan setuju."
kini aku beralih memandang Umi. Umi malah tersenyum padaku dan berkata"kamukan pernah bercerita tentangnya sewaktu kamu duduk dibangku SMA dulu"
Aku mulaii memutar otakku,mengingat ingat siapa yang selalu aku ceritakan saat aku SMA dulu? tapi,ingatanku tak juga pulih.aku benar benar lupa. "siapa Umi?"tanyaku. kemudian Umi tersenyum dan berkata"Sayidil Anam" bergetar hatiku mendengar namanya lagi yang sudah sekian lama aku lupakan. susah payah aku melupakannya dan kenapa disaat aku tidak mengharapkannya lagi dia malah hadir dalam hidupku.
"Salwa diam,itu tandanya dia setuju.."kata Kak Ilyas. aku menatap heran. "apaan si..kak?"
"emm..adik kakak malu malu nih.." kak Ilyas meledekku. "kakak!" aku berteriak padanya.
"eh..sudah sudah"Abi menjadi penengah kami,ketika aku hendak mencubit kak Ilyas.
"nah..lamaran akan dilangsungkan besok ba'da magrib,jadi Salwa kamu bersiap siap.usahakan tidak ada acara besok karna,keluarga Anam akan datang."kat paman Umar. aku terdiam "tapi.."ucapku ragu mencoba menjelaskan keberatanku atas rencana yang mendadak ini.
"sudahlah..mungkin Salwa masih bingung.biar Umi yang jelaskan semuanya pada Salwa,ayo Salwa kita masuk kamar.kamu pasti lelah"ucap Umi. aku menunduk dan mengangguk.
 Didalam kamar aku menatap Umi mencoba mendapat iba darinya."Umi, Salwa tidak mungkin menikah dalam waktu dekat ini,Salwa ingin meraih cita cita Salwa dulu,Salwa tidak mau terikat status apapun,Salwa mau bebas dulu Umi.."kataku menjelaskan keberatanku.
"Salwa,Umi kira kamu akan senang dengan rencana ini. padahal Umi dan Abi sudah mempersiakannya dengan matang,kakak mu Ilyas dan juga istrinya Alya malahan sudah datang jauh jauh dari bogor.hanya untuk menyaksikan kebahagiaan mu,bahkan Umi sangat senang dengan disertakan kehadiran cucu pertama Umi,Fauzan disini.jadi tolong,jangan rusak kebahagiaan yang dinanti sepanjang tahun ini." ujar Umi dengan mata berkaca kaca.
aku tertegun.aku tak mungkin menggores luka dihatinya.aku tak mungkin merusak seluruh kebahagiaannya.
"baik Umi. Salwa setuju dengan semua yang Abi dan Umi lakukan demi kebahagiaan Salwa."kataku akhirnya.
"alhamdulillah"Umi mengucap syukur.
"tapi,bagaimana Umi dan Abi mengenal keluarga Sayidil Anam?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku.
"ayahnya Anam adalah temannya paman Umar.kemudian, ayahnya Anam bercerita kalau dia ingin memilihkan seorang pendamping yang cocok untuk anaknya Anam. yang akan menemani Anam karna,diusia yang masih belia Anam  sudah melanjutkan study prasarjana,dia berhasil mempercepat S1nya dan melanjutkan S2nya sesegera mungkin. sudah begitu dia asisten Dosen dan lagi,dia mantan ketua senat dikampusnya.karna itu,ayahnya akan mencarikan istri  yang cocok untuk Anam yang bisa menemaninya dalam suka dan duka.tadinya paman Umar ingin menjadikan Anam menantunya. tapi,kamu tahukan anaknya Nida masih kelas 2 SMA.akhirnya kamulah yang terpilih.Abi dan Umi langsung menyetujui rencana ini. karna, Umi dan Abi yakin kamu akan setuju."
aku hanya mendengarkan. Umi melanjutkan ucapannya."paman Umar percaya kalu Anam pendamping yang tepat untuk mu dan Abi juga Umi berpikiran demikian.jadi, Istiqorohlah dulu." Umi memelukku dan tersenyum lalu,meninggalkanku sendirian.
aku rebahan ditempat tidurku.aku menghela napas mencoba menenangkan pikiranku dan hatiku.
bayangan bayangan bertebaran diotak dan pikiranku. bayangan seseorang yang saat ini selalu menghibur dan menemaniku. dia yang sabar dan menghormati prinsipku dengan tidak mau pacaran,karna kau orang yang tidak menganut pacaran.dengan sabar dia selalu menjaga dan menasehatiku dia sahabat sekaligus orang yang kusayang.Wildan. aku teringat perkataannya saat kami berbincang ditoko buku.
"Salwa,berjanjilah kamu akan menungguku dua tahun lagi"katanya serius.
"tergantung"ucapku singkat
"kok tergantung?"tanyanya bingung.
"iya,tergantung,jangan membuat wanita berharap karna,wanita butuh kepastian.dan belum tentu kamu jodohku"
"aku yakin kamulah yg ditakdirkan tuhan untukku..dan aku janji akan segera sukses.."ucapnya penuh keyakinan.
"jangan berharap lebih wil,kita tidak akan pernah tahu takdir tuhan akan melabuhkan kita kemana.."kataku
"yang terpenting kita berfikir positif sal,"potongnya tetap teguh dengan ucapannya.
aku mulai tersadar dari lamunanku. aku mencoba mengikhlaskan semua yang telah digariskan tuhan untukku,aku titipkan cintaku padamu yaAllah..ucapku dalam hati.
perlahan aku menutup mataku dan terlelap.
***
 Ba'da Magrib
       Taaruf berjalan dengan lancar.acara pun diteruskan dengan lamaran.malam ini benar benar malam yang sangat harmonis,ikatan tali silaturahmi diantara dua keluarga yang akan bersatu menjadi keluarga.
aku memakai gamis merah muda  dengan hijab putih yang menutupi rambutku,aku hanya bisa menunduk menyaksikan lamaran ini.
aku tersenyum pada kedua orang tua Anam juga adiknya Aisyah.aku tau namanya dari Umiku.sekilas aku melihat Anam yang juga terus menunduk.
"untuk menegaskan bapak ingin bertanya sekali lagi,benarkah adinda Salwa menerima khitbah dari putra bapak Sayidil Anam?"tanya ayahnya Anam padaku.
"Bismilahirahmanirahim..saya terima khitbah akhi Sayaidil Anam.."ucapku mantap. "..dan saya terima mahar apapun yang beliau berikan"lanjutku. serentak semua menjawab "alhamdulillah."
malam bertabur bintang membalut sejuta keindahan,rembulanpun seolah tersenyum menyaksikan ikatan janji suci yang akan segera halal.
kini hatiku mantap dengan segala suratan yang tuhan gariskan untukku dan berharap akan ada hal hal baik yang mengitari hidupku.
***
 Hari demi hari terus bergulir dengan singkatnya,pada tanggal 23 hari Ahad bulan januari adalah hari bersejarah dalam hidupku dan calon imamku Anam.
akad nikah dilangsungkan hari ini. Anam dan keluarganya datang dengan segala seserahan yang mereka bawa,dari balik jendela aku melihat Anam terlihat tampan dengan pakaian yang dia kenakan.setelan jas hitam dan celana hitam.aku mulai jatuh cinta padanya lagi. aku juga telah selesai berhias tapi,sebelum Anam mengucapkan ijab khobul aku tidak boleh keluar dulu.
acara akad nikah berjalan dengan lancar, Anam mengucapkan ijab khobul dengan lantang dan tegas penuh kenyakinan"saya terima nikahnya Salwa Adinda Zahira dengan mahar 10 gram emas dan seperangkat alat sholat tunai." kemudian semua orang mengucapkan "sah.."dan mengamini memberi restu dan do'a.
hatiku lega. kini aku menjadi milik Anam. dan seluruh jiwa ragaku hanyalah untuknya,aku berharap aku bisa menjadi istri yang sholehah.
aku keluar dari kamar didampingi kak Alya dan duduk dipelaminan bersanding dengan Anam. semua tamu bersuka cita memberi ucapan selamat kepada kami,dari kerabat Anam juga dari kerabat dan teman temanku.tapi,aku tidak melihatnya,sahabatku Wildan. padahal aku sudah menitipkan undangannya pada Rahma.saat Rahma ditanya dia hanya menggeleng. mungkin Wildan kecewa,padahal sungguh aku tidak berniat mengecewakannya.aku hanya berusaha mengikhlaskan suratan takdir yang tuhan gariskan.
***
    Malam bertabur bintang diiringi candaan manja sang angin, rembulan tersenyum menyapa dua insan yang saling jatuh cinta karna Allah.
perlahan Anam duduk disampingku. dia tersenyum seraya berkata"sini aku bacakan do'a keberkahan untuk pernikahan kita" aku mengangguk. Anam memanjatkan do'a diatas ubun ubun kepalaku. aku mengamini dengan isak tangis yang keluar begitu saja,setelah selesai Anam mencium keningku.
"Barakaallah istriku.."ucapnya lembut
"terima kasih suamiku..Barakaallah"
dia tersenyum. dan kami menjadi insan yang paling bahagia malam ini.
***
     Menjadi seorang istri adalah tugas yang mulia. kini hari hariku diisi untuk membahagiakan suamiku Sayidil Anam. Anam adalah suami yang baik dan lembut,dia selalu memanjakanku,dia selalu menasehatiku, aku bahagia bersamanya. apalagi beberapa bulan ini aku mengalami gejala gejala wanita hamil dan setelah diperiksa dokter ternyata memang benar aku positif hamil. Anam sangat bahagia begitu pula dengan keluarga kami umi,abi,dan ayah serta ibunya Anam.semu terasa membahagiakan buatku.
***
    Hari,bulan dan tahun terus berganti. aku sudah melahirkan anak pertama kami hasil buah cintaku dan Anam. anak kami seorang perempuan dan kami berinama Fatiah Nur Faida. dia sangat lucu dan cantik, kulihat mata Anam berkaca kaca  saat memandanginya. kini dia seorang ayah dan aku seorang ibu.
"sayang sepertinya besok aku harus pergi ke Batam" ucap Anam tiba tiba,saat menimang nimang Fatiah. aku terkejut.
"baru beberapa hari kelahiran Fatiah masa kamu mau meninggalkannya?"tanyaku merajuk.
Anam meletakan Fatiah diboks bayi."istriku berat sebenarnya meninggalkan kalian,hanya saja ini adalah riset untuk S2 ku dan harus segera ku selesaikan agar aku bisa mendapat predikat prasarjanaku."katanya
aku menghela napas.aku tidak boleh egois.pikirku dalam hati.
"baiklah,tapi ingat harus selalu memberi kabar. oke?"
"siap!"kata Anam dengan khasnya. nyengir kuda.
tak lam kemudian Anam berangkat keBatam. rasanya sangat berat melepas kepergiannya kali ini. aku terus berdo'a menitipkannya pada Allah.
***
"Anam?" aku menatap heran."kamu mau kemana?"tanyaku
Anam tidak menjawab dia malah tersenyum dan melambaikan tanganya. pergi menjauh semakin jauh dariku. aku terperanjat."astagfirullah.."ucapku. napasku tersengal sengal,mimpi buruk.aku meludah tiga kali kearah kiri dan terus beristigfar.berharap semua hanyalah bunga tidur.
aku menggendong Fatiah dengan segenap rasa cintaku,aku menimang nimangnya tapi,tangisnya tak juga reda.entahlah semenjak kepergian Anam kebatam dia sering menangis dan rewel.aku kalut dibuatnya.apalagi dengan kejadian mimpi buruk semalam.astagfirullah aku tidak usah mengingat mimpi itu lagi, tapi kenapa aku jadi gelisah seperti ini? aku bergulat dengan hatiku sendiri.
TENG..NENG..NENG..
suara handphondku berbunyi,aku mendekati handphondku.dan kuangkat telefon itu dari nomor yang tidak aku kenali."assalamu'alaikum"ucapku
"waalaikum salam"jawab suara sipenelepon itu.sepertinya pria setengah baya aku bisa mengenalinya dari suaranya yang berat.
"benarkah ini dengan ibu Salwa?"tanyanya
"iya benar saya sendiri,ada perlu apa yah? dan dengan siapa saya bicara?"tanyaku penasaran.
"saya komandan Anto dari kepolisian batam.benarkah anda istri dari saudara Anam?"
hatiku bergetar."i..iya ada apa dengan suami saya?"tanyaku gugup.
"suami anda mengalami kecelakaan,dia tertabrak bis.dan mengalami luka luka param,mungkin dia tidak akan selamat."
aku terkapar. mataku sudah penuh dengan air mata.dadaku sesak aku tidak bisa berkata apa apa lagi.bahkan telefon pun aku abaikan."bu..ibu.."suara ditelefon terus memanggil manggil.aku tidak menyahut.aku terus menangis mendekap Fatiah yang ikut menangis.
takdir memang tak selalu dengan apa yang kita inginkan, tak selalu berjalan sesuai harapan, adakalanya takdir menghancurkan harapan harapan yang kita impikan, adakalanya selalu bertolak belakang dengan harapan dan kenyataan.tapi,semua akan indah pada akhirnya.
***
     aku menatap pedih.diatas pusaran Anam.aku hanya bisa mendo'akannya agar dia senantiasa masuk dibarisan orang orang beriman dan diterima disurganya.
aku mencoba mengikhlaskannya,menitikan seluruh cintaku pada Allah. agar suatu hari nanti kami bisa disatukan kembali disurganya.
Angin berlintas dengan semilirnya yang sejuk. wangi bunga kamboja terasa semerbak ditenggorokanku. aku melihat Fatiah yang semakin cantik dia sudah berusia satu tahun. semenjak ayahnya meninggal akulah yang mati matian merawatnya mencoba menjadi figur ibu sekaligus ayah yang baik.
aku mencoba bertahan dalam kepedihan ini. berharap suatu hari nanti akan ada kebahagiaan yang menanti kami.
    ku tatap deretan awan yang terlukis dilangit biru.ku hembuskan seluruh napas yang terasa berat, aku beranjak dari pusaran Anam berjalan melewati beberapa nisan yang entah milik siapa dan diantara rerumputan hijau aku melihat seorang pria berdiri disana melihatku.
"Wildan?"
End..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar